Loading...
Edukasi

Jadi Narasumber Nasional Di Forum Jakarta, Tonasa Tekankan Hilirisasi sebagai Kunci Ekspor Komoditas Pertanian Sulawesi Tenggara

PIMRED
22 October 2026
Editor: pimred
Jadi Narasumber Nasional Di Forum Jakarta, Tonasa Tekankan Hilirisasi sebagai Kunci Ekspor Komoditas Pertanian Sulawesi Tenggara

JAKARTA — Hilirisasi komoditas pertanian dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan memperluas peluang pasar produk lokal. Gagasan tersebut disampaikan Muhamad Tonasa dalam kegiatan Workshop Hilirisasi UMKM Sawit: Mendorong Produk Petani Sawit Menembus Pasar Ekspor yang diselenggarakan di Jakarta.


Tonasa hadir sebagai narasumber dengan membawa perspektif pengembangan bisnis, inovasi produk, dan potensi sumber daya alam Sulawesi Tenggara. Ia menjabat sebagai Kepala Laboratorium Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Kendari, Dewan Pakar SPKS Indonesia Timur, serta Manajer Agro Lestari Raya.

Dalam forum tersebut, Tonasa menyoroti pentingnya mengubah potensi komoditas pertanian menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Menurut perspektif pengembangan usaha yang diusungnya, kekayaan sumber daya alam tidak cukup hanya dipasarkan sebagai bahan mentah. Diperlukan inovasi, penguatan kapasitas produksi, pengembangan merek, serta akses pasar agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh petani dan pelaku usaha lokal.

Sulawesi Tenggara memiliki beragam potensi komoditas pertanian dan perkebunan, antara lain kakao, kelapa, jambu mete, serta kelapa sawit di wilayah yang sesuai. Potensi tersebut membuka peluang pengembangan produk turunan yang dapat menyasar pasar domestik maupun internasional.

Namun, upaya menembus pasar ekspor memerlukan lebih dari sekadar ketersediaan bahan baku. Konsistensi kualitas, efisiensi produksi, pemenuhan standar produk, legalitas usaha, kemasan, dan jaringan distribusi menjadi bagian penting dalam membangun daya saing.

PalmaCoco, Inovasi Produk Turunan Sawit dan Kakao

Salah satu hal yang diperkenalkan Tonasa dalam kegiatan tersebut adalah PalmaCoco, merek produk sabun yang dikembangkan dengan memanfaatkan potensi komoditas kelapa sawit dan kakao sebagai bagian dari inovasi produk turunan pertanian.

PalmaCoco membawa gagasan bahwa komoditas perkebunan dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Inisiatif ini sekaligus memperlihatkan peluang hilirisasi yang dapat dijajaki oleh pelaku UMKM untuk membangun produk dengan identitas merek sendiri.

Pengembangan PalmaCoco direncanakan tidak berhenti pada sabun mandi. Ke depan, lini produknya berpotensi diperluas ke berbagai produk kebersihan rumah tangga dan perawatan tubuh, seperti deterjen cair, sabun colek, sabun cuci piring, dan sampo.

Diversifikasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih beragam sekaligus mendorong pengembangan usaha berbasis komoditas perkebunan. Meski demikian, setiap kategori produk membutuhkan formulasi, pengujian mutu dan keamanan, serta pemenuhan persyaratan perizinan yang sesuai sebelum dipasarkan.

Bagi Tonasa, pengembangan produk seperti PalmaCoco dapat menjadi bagian dari proses membangun ekosistem usaha yang menghubungkan potensi bahan baku dengan inovasi, pengolahan, dan pemasaran.

Mendorong Petani Menjadi Bagian dari Rantai Nilai

Dalam pengembangan hilirisasi, petani dan koperasi memiliki peluang untuk mengambil peran lebih besar, tidak hanya sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga sebagai mitra dalam pengolahan dan pemasaran produk.

Model tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari organisasi petani, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pembiayaan, hingga pelaku industri. Dukungan teknologi dan pendampingan usaha juga diperlukan agar produk yang dikembangkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen serta memiliki daya saing.

Peran perguruan tinggi, termasuk melalui laboratorium bisnis, menjadi relevan dalam proses tersebut. Pendampingan dapat diarahkan pada penyusunan model bisnis, perhitungan biaya produksi, pengelolaan keuangan, strategi pemasaran digital, dan pengembangan jaringan kemitraan.

Dengan pendekatan ini, inovasi produk tidak hanya berorientasi pada penciptaan barang baru, tetapi juga pada pembentukan usaha yang berkelanjutan dan memiliki peluang berkembang.

Membuka Peluang Ekspor dari Potensi Daerah

Bagi Sulawesi Tenggara, hilirisasi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat ekonomi berbasis sumber daya lokal. Komoditas seperti kakao, kelapa, jambu mete, dan sawit memiliki karakteristik serta peluang pengembangan yang berbeda, sehingga membutuhkan strategi pengolahan dan pemasaran yang disesuaikan dengan masing-masing komoditas.

Pengembangan produk olahan dapat membantu memperluas pilihan usaha, tetapi keberhasilan ekspor tetap bergantung pada kesiapan produk, kapasitas produksi, kepatuhan terhadap ketentuan negara tujuan, serta adanya permintaan pasar yang dapat diidentifikasi.

Melalui partisipasinya dalam workshop tersebut, Tonasa membawa pesan bahwa pengembangan potensi pertanian daerah perlu diikuti dengan langkah konkret untuk meningkatkan nilai tambah. Inovasi seperti PalmaCoco menjadi salah satu gagasan yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pengujian produk, penguatan model bisnis, dan kemitraan dengan berbagai pihak.

Hilirisasi pada akhirnya bukan sekadar mengubah bahan mentah menjadi produk jadi. Lebih dari itu, hilirisasi merupakan upaya membangun rantai nilai yang memungkinkan petani, koperasi, dan UMKM berpartisipasi lebih besar dalam kegiatan ekonomi, sekaligus membuka peluang bagi produk berbasis sumber daya lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Bagikan:
Space Iklan Premium
Tingkatkan Omzet Bisnis Anda!

Jangkau ribuan mahasiswa dan pelaku UMKM di ekosistem E-Biz FEBI setiap harinya.

Pasang Iklan Sekarang
Official Partner
Promo Pegadaian
Butuh Modal Usaha Syariah?

Ajukan pembiayaan mudah dan aman untuk UMKM Anda bersama Pegadaian.

Ajukan Sekarang
Promosikan Bisnismu

Space tersedia (300 x 250px)
Klik untuk detail